Jumat, 18 Oktober 2013

BANJIR DAPAT MENJADI MASALAH SOSIAL




Terkadang kita dapat menjumpai masalah sosial atau malah sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, kali ini saya akan membahas salah satu masalah sosial yang terjadi di kehidupan kita yaitu Banjir.

Di setiap musim hujan, banjir menjadi salah satu masalah yang serius. . Wilayah Jakarta, tangerang, dan Bekasi yang sebelumnya tidak pernah terkena banjir kini tidak bias mengelak lagi. Pada umumnya banjir disebabkan oleh kecerobohan masyarakatnya, seperti membuang sampah ke tempat penampungan air, serta membangun permukiman di daerah-daerah resapan air hujan. Akibatnya tempat penampungan air hujan tidak dapat lagi menampung air hujan yang terus bertambah sehingga banyak daerah-daerah/ wilayahnya yang terendam dengan air.

Penelusuran faktor-faktor yang berpengaruh pada peristiwa alam yang menimbulkan bencana dua tahun terakhir ini menunjukkan bahwa ada faktor alamiah yang tidak bisa dikendalikan manusia, tetapi juga banyak faktor yang sebetulnya berasal dari intervensi manusia, termasuk arah kebijakan yang tidak tepat, pengelolaan DAS Ciliwung yang tidak lagi memenuhi kadah-kaidah konservasi lahan,  Curah hujan dan intensitas hujan yang tinggi, angin kencang, gempa bumi, dan letusan gunung berapi merupakan contoh-contoh faktor alam yang tidak bisa dikendalikan manusia. Sedangkan masalah illegal logging di kawasan hutan, pemukiman, dan budidaya pertanian di lereng gunung merupakan bentuk intervensi yang sebetulnya dapat dikendalikan manusia

Curah hujan di Jakarta akan meningkat. Setidaknya tiga faktor yang menjadi penyebabnya. Pertama, sirkulasi udara dan angin yang melintasi Indonesia. Angin Munson Asia bertiup dari Asia ke Australia. Angin ini melalui Indonesia. Dan angin ini bertiup secara intensif pada bulan ini. Faktor kedua, kondisi perairan di Indonesia terjadi keadaan makro fisis dan mikro fisis. Ketiga, faktor global. El Nino dan La Nina yang berpengaruh pada cuaca Indonesia. Ketiga faktor ini selalu berfluktuasi. Oleh karena itu, iklim selalu akan berfluktuasi. Secara alami, pemicu banjir adalah curah hujan. Secara kuantitas memang sulit menentukan besarnya intensitas curah hujan tersebut. Sulitnya pengukuran disebabkan tidak meratanya hujan yang mengguyur Jakarta.

Banjir merupakan bencana alam yang selalu merugikan kehidupan. Namun, banjir juga dapat menguntungkan bagi lingkungan. Oleh karena itu, banjir memberika dampak positif dan dampak negatif bagi manusia dan lingkungannya. Dampak positif dari banjir adalah menyuburkan tanah di daerah sepanjang aliran karena banjir mengangkut tanah yang subur dari hulu.  Adapun dampak negatifnya adalah korban yang meninggal hingga saat ini mencapai 14 orang, sementara pengungsi mencapai 365 ribu orang lebih, melumpuhkan kegiatan manusia, menghanyutkan tanaman dan lapisan humus tanah, merusak rumah dan harta benda, Menggenangi daerah pertanian, memutus hubungan transportasi, mengurangi persediaan air bersih.


Pencemaran bakteri coli. Sebelum banjir saja, akhir 1999, pengujian beberapa contoh air di kawasan Jakarta menunjukkan, air kolam (di pinggiran kota) sekitar 10.000 sel, air kolam di pertamanan 5.000-8.000 sel, kolam di bundaran Hotel Indonesia minimal 2.000 sel. Sedang pada sumur penduduk di tepi sungai di atas 10.000 sel. Pada sumur penduduk yang paling jauh dari sungai maksimum 1.000 sel. Air PAM Jakarta di sekitar kawasan kota mengandung kurang dari 5 sel dan air PAM yang masuk/ melalui permukiman kumuh antara 25-50 sel (karena kebocoran atau dibocorkan penduduk). Di keran-keran hotel-hotel umumnya antara 1-5 sel. Dampak dari banjir juga dapat mengakibatkan munculnya: 
  1. Bakteri patogen terutama penyakit penyebab tipus, paratipus, kolera, disentri, selalu dijumpai di air selokan, sungai, dan tentu saja air banjir. Penyebabnya antara lain akibat air keruh, banyak kotoran manusia dan sampah yang membusuk.
  2. Bakteri penghasil toksin atau racun, yang sering menyebabkan keracunan makanan secara massal misalnya makanan katering di pesta atau pabrik. Bakteri ini tergolong aerobik seperti Pseudomonas ataupun anaerobik seperti Clostridium yang dapat mematikan.
  3. Jamur penghasil mikotoksin (racun jamur) yang di samping merupakan penyebab keracunan makanan, juga bersifat karsinogenik atau dapat menyebabkan kanker. Ini bisa dilihat tumbuh pada tepung atau hasil olahannya yang berwarna kebiruan, kehijauan, atau warna lainnya.
  4. Curah hujan di kawasan hulu juga bisa membawa spora (bibit) jamur liar yang kemudian tumbuh di lapangan, kebun ataupun pekarangan rumah. Waspadai jamur ini karena beracun dan dapat mematikan kalau dimakan.
  5. Mikroba terutama bakteri yang menimbulkan terjadinya korosi pada berbagai bahan bangunan dan peralatan rumah tangga, rel kereta api, tiang dan kerangka jembatan, pipa PAM maupun pipa lainnya. Mikroba juga merusak tembok, yang diawali dengan tumbuhnya jamur berwarna gelap (hitam, biru, merah, hijau). 


Setelah mempelajari dengan saksama berbagai aspek penyebab banjir, Substansinya adalah mengendalikan aliran air dari hulu sungai dan membatasi volume air masuk kota. Karena itu, perlu dibangun saluran kolektor di pinggir selatan kota untuk menampung limpahan air, dan selanjutnya dialirkan ke laut melalui tepian barat kota. Saluran kolektor yang dibangun itu kini dikenal sebagai "Banjir-Kanal" yang memotong Kota Jakarta dari Pintu Air Manggarai bermuara di kawasan Muara Angke. Pencegahan di wilayah hulu, yaitu dengan membangun beberapa bendungan untuk penampungan sementara, sebelum air di alirkan ke hilir. Usaha yang dapat dilakukan untuk penanggulangan banjir adalah menjauhkan permukiman, industri dan pusat pertumbuhan lainnya dari daerah banjir yang sudah secara historis dipetakan oleh hujan. Untuk mengurangi kerugian banjir akibat hujan, perlu dikembangkan peringatan dini. Caranya, dengan mengukur tinggi hujan di berbagai tempat, lalu dibuat kurva hubungan antara curah hujan (tinggi hujan) dengan tinggi muka air sungai yang akan terjadi.

Daerah aliran sungai (DAS) adalah wilayah yang potensial menjadi daerah tangkapan air hujan yang akan mengalirkan ke sungai yang bersangkutan. Perubahan fisik yang terjadi di DAS akan berpengaruh langsung  terhadap retensi DAS terhadap banjir. Retensi DAS adalah kemampuan DAS untuk menahan air di bagian hulu. Perubahan tata guna lahan, misalnya dari hutan dijadikan perumahan, perkebunan atau lapangan golf akan menyebabkan retensi DAS ter-sebut berkurang secara drastis. seluruh air hujan akan dilepaskan DAS ke arah hilir. Sebaliknya semakin besar retensi suatu DAS semakin baik, karena air hujan dapat dengan baik diresapkan (diretensi) dan secara perlahan-lahan dialirkan ke sungai hingga tidak menimbulkan banjir di hilir. Sebagai permulaan program tersebut adalah perbaikan Pintu Air Manggarai sehingga mampu menampung kapasitas air yang masuk, meningkatkan kapasitas Banjir Kanal Barat dari 300 m3/dt saat ini menjadi 350 m3/dt. Selain itu, meningkatkan polder-polder (penampungan air) yang ada, memperbanyak pompa dan membangun rumah susun untuk warga yang terkena bencana banjir. Pemda diminta untuk menyediakan tempat penampungan bagi pengungsi banjir di 80 titik rawan banjir. Mengenai penataan wilayah Bogor, Puncak, Cianjur (Bopunjur) pemerintah tengah memikirkan untuk memberi intensif bagi wilayah Bopunjur jika nantinya kawasan tersebut dikembalikan fungsinya sebagai daerah resapan. Juga melakukan penutupan dan peninggian tanggul kritis serta menanggulangi kerusakan tebing akibat erosi. 


Untuk mengurangi peristiwa banjir, sebaiknya pemerintah melakukan peringatan dini. Tinggi muka air sungai di daerah hulu harus selalu dipantau untuk dapat memberikan peringatan lebih awal. Dengan demikian, penduduk dapat disiapkan untuk mengamankan diri dan barang-barangnya beberapa jam sebelum banjir terjadi. Pemerintah DKI Jakarta dan Jawa Barat juga melakukan kerjasama menangani masalah DAS Ciliwung. Mengatasi banjir di hilir (Jakarta), yang pertama prinsipnya adalah meningkatkan infiltrasi air di daerah hulu DAS Ciliwung, yakni daerah atas dari Jakarta.

Selain itu pemerintah DKI Jakarta perlu membuat tim mitigasi bencana banjir yang solid dan profesional sehubungan banjir di Jakarta saat ini sudah menjadi tradisi tiap musim penghujan.
 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar